Prediksi IHSG;
Pemerintah
melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia
(ESDM), kemarin sore, Rabu 30 Maret 2016 mengumumkan penurunan harga BBM
Subsidi jenis Premium
dan Solar. Pemerintah memutuskan menurunkan harga premium dan solar
sebesar Rp 500 per liter yang mulai berlaku pada tanggal 1 April 2016.
Penurunan harga BBM ini berpotensi mendorong baik pergerakan pasar modal
maupun perekonomian Indonesia, menyusul inflasi
yang terjaga dan disposal income yang lebih tinggi. Dari ekternal
pernyataan Yellen bahwa kenaikan Fed rate bertahap kemungkinan akan
terjadi di tahun depan, karena melihat situasi global yang telah
meningkatkan resiko, menambah dikungan bagi pasar. Akumulasi
sentimen positif ke pasar tersebut, membuka peluang bagi IHSG untuk
melanjutkan kenaikan pada perdagangan saham hari ini.
Perspektif tenikal
Support Level : 4795/4773/4754
Resistance Level : 4836/4855/4877
Major Trend : Down
Pattern : Up
TRADING IDEAS :
These recommendations based on technical and only intended for one day trading
Perspektif tenikal :
INDF: Trading Buy
Close 7250,
TP 7375
Boleh buy di level 7125-7250
Resistance di 7375
& support di 7025
Waspadai jika tembus di 7025
Batasi resiko di 7000
ERAA: Trading Buy
Close 710,
TP 730
Boleh buy di level
700-710
Resistance di 730
& support di 670
Waspadai jika tembus di 670
Batasi resiko di 660
SCMA : Trading Buy
Close 3170,
TP 3265
Boleh buy di level
3160-3170
Resistance di 3265
& support di 3110
Waspadai jika tembus di 3110
Batasi resiko di 2100
LPKR: Trading Buy
Close 1055,
TP 1085
Boleh buy di level 1045-1055
Resistance di 1085
& support di 1040
Waspadai jika tembus di 1040
Batasi resiko di 1030
BMTR: Trading Buy
Close 1120,
TP 1155
Boleh buy di level 1110-1120
Resistance di 1155
& support di 1060
Waspadai jika tembus di 1060
Batasi resiko di 1050
BHIT: Trading Buy
Close 184,
TP 199
Boleh buy di level 182-184
Resistance di 190
& support di 175
Waspadai jika tembus di 175
Batasi resiko di 173
Ket. TP
: Target Price
NIRO, MNCN, ROTI, AKRA, TINS, BMRI
(Disclaimer ON)
Commodities Price: 30-Mar-16
Crude Oil-(barel)
US$38.92 (0.64)
Gold-(troy
oz) US$1,237.94 (-4.38)
Nickel-(ton)
US$8,450.00 (-200.00)
Tin-(ton)
US$16,800.00 (-500.00)
Coal
(Newc)/ton US$51.25 (-11.15)
CPO
Mal/ton* MYR2,670.00 (19.50)
Foreign Exchange
*running
Agenda hari ini -
Kamis, 31 Maret 2016
RUPSLB
• FMII – RUPSLB
• NIKL – RUPST
• CSAP – RUPST/LB
• ANTM – RUPST
Dividen
• SDPC Cash Dividend 3.00, Cum 30 Mar-16, ex 31 Mar-16
• BBRI Cash Dividend 311.66, Cum 31 Mar-16, ex 01 Apr-16
Economic Calendar:
• data Retail Sales Jerman bulan Pebruari 2016
• pidato gubernur Bank of England (BoE) Mark Carney
• data jumlah pencari kerja di Jerman bulan Maret 2016
• data Gross Domestic Product (GDP) Inggris kwartal ke 4 tahun 2015 (Final)
• data Current Account Inggris kwartal ke 4 tahun 2015
• data CPI Flash Estimate kawasan Euro bulan Maret 2016
• data Jobless Claims AS per 25 Maret 2016
VAS
HEADLINE NEWS
Indofood
Sukses Makmur (INDF) meningkatkan kepemilikan saham pada perusahaan
kebun milik Grup Salim PT Salim Invomas Pratama Tbk. sebanyak 991.400
lembar saham. Dengan transaksi
tersebut, kepemilikan saham emiten bersaham INDF itu meningkat menjadi
1.035.306.400 lembar saham atau sekitar 6,68% dari jumlah saham beredar
SIMP.
Jasa
Marga (JMR) berencana menerbitkan obligasi berkelanjutan senilai Rp13
triliun untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) tahun
2016. Obligasi menjadi salah satu
pilihan korporasi untuk mendapatkan pendanaan dalam rangka membiayai
belanja modal yang mencapai Rp13,8 triliun tahun ini. Pada tahun 2016
perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp13,89 triliun, meningkat
dibanding tahun 2015 yang hanya sekitar Rp4,15
triliun. Belanja modal akan dialokasikan untuk pembangunan jalan tol
baru senilai Rp11,34 triliun, dan untuk keperluan operasional perusahaan
sekitar Rp1,3 triliun dan selebihnya untuk keperluan operasi lainnya.
Link
net (LINK) telah menerima fasilitas leasing dari PT Century Tokyo
Leasing Indonesia pada 28 Maret 2016. Jumlah fasilitas sebesar
US$10.000.000 untuk jangka waktu lima tahun.
Saham LINK kemarin ditutup di level Rp4135 per lembar naik Rp190 per
lembar saham. Fasilitas itu diterima berdasarkan perjanjian induk
pembiayaan investasi dan perjanjian pendukung lainnya.
Aset
perkantoran Bumi Serpong Damai (BSDE) dinilai paling siap dilepas untuk
menjadi underlying dana investasi real estate (DIRE) karena sudah
mencapai tingkat valuasi yang menguntungkan
serta pendapatan sewa yang relative stabil. Perusahaan tertarik melepas
aset ke dalam struktur DIRE menyusul pemberian diskon pajak oleh
pemerintah di instrmen DIRE. Saat ini, BSDE memiliki sejumlah aset
perkantoran yang tersebar di Medan, Jakarta, Tangerang
dan Surabaya. Hingga 2015, pendapatan sewa dari property investasi
mencapai Rp722,19 miliar, tumbuh 24,31% secara tahunan. BSDE juga
membukukan pendapatan dari pengolahan gedung sejumlah Rp258,21 miliar,
atau naik 4%.
Ramayana
Lestari Sentosa (RALS) alami penurunan pendapatan per Desember 2015
menjadi Rp5,53 triliun dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya sebesar
Rp5,86 triliun. Perusahaan membukukan
laba bersih sebesar Rp336,05 miliar turun dari laba bersih tahun
sebelumnya sebesar Rp355,66 miliar. Sedangkan total aset per Desember
2015 mencapai Rp4,57 triliun naik tipis dari total aset per Desember
2014 yang Rp4,56 triliun.
Jasa
Marga (JSMR) berencana melepas 10% saham milik pemerintah kepada
investor publik untuk tambahan modal perseroan apabila tidak diberikan
penyertaan modal negara (PMN) pada 2016.
Dengan pelepasan tersebut, JSMR berpotensi mendapatkan Rp 8 triliun.
Penambahan modal tersebut diperlukan untuk menopang sejumlah proyek
jalan tol yang diincar seperti ruas Balikpapan-Samarinda, Manado-Bitung
dan Pandaan-Malang.
Jasa
Marga (JSMR) menganggarkan belanja modal sebesar Rp 13,89 triliun di
tahun 2016, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 4,15 triliun.
Dana tersebut paling besar akan diperuntukkan
untuk mendukung bisnis perusahaan, seperti pembangunan jalan tol baru
sejumlah Rp 11,34 triliun dan sisanya untuk operasional sejumlah Rp 1,3
triliun. Pada 2016, perseroan menargetkan pendapatan usaha di luar
pendapatan konstruksi dapat mencapai Rp 8,66 triliun
atau tumbuh 13,5% YoY. Pendapatan tersebut didukung oleh pertumbuhan
volume lalu lintas sebesar 2,25% YoY menjadi 1,41 miliar kendaraan yang
melintas.
Bumi
Serpong Damai (BSDE) menyiapkan belanja modal Rp 4 triliun pada tahun
ini untuk ekspansi penambahan lahan, pembangunan infrastruktur kawasan,
dan pembangunan proyek-proyek properti.
Untuk akuisisi lahan, perseroan akan memprioritaskan pembebasan lahan di
wilayah yang sudah mendapat izin lokasi. Pada April 2016, BSDE akan
meluncurkan proyek apartemen The Element yang berlokasi di kawasan
Rasuna Said. Perseroan akan membangun dua menara
apartemen dengan harga Rp 45 juta per m2. Selain itu, BSDE juga akan
merilis proyek Aerium di Jakarta Barat. Perseroan akan membangun dua
menara apartemen dengan harga mulai dari Rp 30 juta per m2. Sementara
itu, di Surabaya, BSDE akan membangun dua menara
apartemen di bilang Jagir. Perseroan juga akan mengembangkan lahan
seluas 5,4 ha menjadi superblok di Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Dari
empat proyek ini, BSDE menargetkan marketing sales sebesar Rp 1,3
triliun. Sepanjang tahun ini, perseroan menargetkan
marketing sales Rp 6,8 triliun atau sama dengan realisasi tahun lalu.
Kontribusi dari BSD City tetap akan mendominasi yaitu sebesar 65%.
Bumi
Serpong Damai (BSDE) memproyeksi tahap konstruksi tol Serpong-Balaraja
dapat dimulai pada kuartal III-2016. Konsorsium yang dipimpin perseroan
juga tengah menjajaki pinjaman
dari perbankan lokal untuk mendanai proyek tol sepanjang 30 km. Porsi
saham BSDE di konsorsium tersebut mencapai 50%. Total investasi yang
dibutuhkan untuk membangun ruas tol tersebut mencapai Rp 6,03 triliun.
Sri
Rejeki Isman (SRIL) menargetkan pertumbuhan pendapatan 8-10% tahun ini.
Perseroan juga menargetkan pasar ekspor baru dapat berkontribusi 2-4%
dari pendapatan. Pada tahun ini,
SRIL mengalokasikan anggaran belanja modal senilai USD 50 juta.
Perseroan membatalkan emisi obligasi global hingga USD 420 juta untuk
refinancing tahun ini karena ditundanya proyek pembangkit listrik.
Bank
Permata (BNLI) akan melakukan rights issue sebanyak-banyaknya 21,2
miliar saham kelas B, dengan nilai nominal Rp 125 per saham. Cum right
di pasar reguler pada 17 Mei 2016.
Periode perdagangan HMETD pada 24-30 Mei 2016. Dana yang diperoleh akan
dipergunakan untuk memperkokoh struktur permodalan perseroan dan
seluruhnya akan digunakan untuk membiayai peningkatan aset produktif
dalam rangka pengembangan usaha.
Bank
OCBC NISP (NISP) menargetkan penghimpunan dana senilai Rp 2 triliun
dari penerbitan obligasi berkelanjutan II pada tahap pertama. Penerbitan
obligasi tersebut ditujukan untuk
mendiversifikasi sumber pendanaan guna mendukung pertumbuhan bisnis.
Seluruhnya akan digunakan untuk penyaluran kredit modal kerja.
Dharma
Satya Nusantara (DSNG) membukukan pendapatan bersih tahun 2015 sebesar
Rp 4,43 triliun atau turun sebesar 9,7% dibandingkan tahun 2014 yang
mencapai Rp 4,90 triliun. Penurunan
tersebut disebabkan oleh turunnya harga rata-rata Crude Palm Oil (CPO)
sepanjang tahun 2015 lalu. Penurunan harga CPO dan pendapatan bersih
tersebut mengakibatkan perolehan EBITDA Perseroan yang lebih rendah pada
tahun 2015. Perusahaan membukukan EBITDA sebesar
Rp 1,03 triliun pada tahun 2015, turun sekitar 22,4% dari tahun 2014.
Agung
Podomoro (APLN) membukukan penurunan laba bersih per Desember 2015
menjadi Rp808,95 miliar dibandingkan laba bersih periode sama tahun
sebelumnya yang Rp851,79 miliar. Padahal,
penjualan usaha naik menjadi Rp5,97 triliun dari penjualan usaha tahun
sebelumnya yang Rp5,29 triliun.
Penjualan
bersih Fajar Surya Wisesa (FASW) mengalami penurunan per Desember 2015
menjadi Rp4,95 triliun dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya
meraih penjualan bersih
Rp5,45 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Perseroan mencatatkan
rugi bersih sebesar Rp308,89 miliar dibandingkan periode sama yang
membukukan laba bersih Rp91,50 miliar di tahun 2014.
Sat
Nusapersada (PTSN) membukukan laba sebesar US$108,61 ribu di tahun 2015
lalu dibandingkan rugi sebesar US$2,80 juta di tahun 2014. Perolehan
laba tersebut seiring adanya akun
manfaat pajak pada tahun lalu. Sisi operasional lainnya, pendapatan
turun menjadi US$86,14 juta dari pendapatan tahun sebelumnay US$112,99
juta.
MNC
Kapital (KPIG) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 41,05% per
Desember 2015 menjadi Rp228,24 miliar dibandingkan periode sama tahun
sebelumnya yang Rp387,18 miliar. Sedangkan
pendapatan usaha naik mejadi Rp1,13 triliun dari pendapatan usaha tahun
sebelumnya yang Rp1,01 triliun.
Sekar
Laut (SKLT) meraih pendapatan sebesar Rp745,10 miliar per Desember 2015
naik dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang Rp681,42 miliar.
Kenaikan pendapatan tersebut, mendorong
laba bersih naik menjadi Rp20,41 miliar dari laba bersih tahun
sebelumnya yang Rp17,33 miliar.
Tifa
Finance (TIFA) membukukan penurunan laba bersih menjadi Rp20,06 miliar
per Desember 2015 dibandingkan laba bersih periode sama tahun sebelumnya
Rp36,30 miliar. Penurunan laba
disebabkan pendapatan turun menjadi Rp164,85 miliar dari pendapatan
tahun sebelumnya yang Rp167,48 miliar.
Asahimas
Flat Glass (AMFG) meraih penjualan sebesar Rp3,66 triliun per Desember
2015 turun tipis dari penjualan tahun sebelumnya yang Rp3,67 triliun.
Penurunan pendapatan tersebut
mengakibatkan laba bersih turun menjadi Rp341,34 miliar dari laba bersih
tahun sebelumnya Rp464,15 miliar.
Ramayana
Lestari Sentosa (RALS) membukukan penurunan pendapatan per Desember
2015 menjadi Rp5,53 triliun dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya
yang Rp5,86 triliun. Akibatnya laba
bersih diraih Rp336,05 miliar turun dari laba bersih tahun sebelumnya
yang Rp355,66 miliar.
Pan
Brothers (PBRX) mencatatkan alami penurunan laba bersih sebesar 1,95%
hingga Desember 2015 menjadi US$9,38 juta dibandingkan laba bersih di
periode sama tahun sebelumnya US$9,57
juta. Penjualan bersih padahal meningkat menjadi US$418,57 juta dari
penjualan bersih tahun sebelumnya yang US$338,53 juta.
MNC
Kapital Indonesia (BCAP) membukukan pendapatan sebesar Rp1,28 triliun
di tahun 2015 naik dari pendapatan tahun sebelumnya yang Rp976 miliar.
Sedangkan dari sisi bottom line,
tercatat perseroan membukukan rugi bersih tercatat Rp38,33 miliar
dibandingkan periode sama tahun sebelumnya meraih laba bersih sebesar
Rp29,34 miliar.
Mayora
Indah (MYOR) mencatatkan kenaikan laba bersih lebih dari 200% per
Desember 2015 menjadi Rp1,22 triliun dibandingkan laba bersih periode
sama tahun sebelumnya yang Rp403,43
miliar. Sementara itu, penjualan bersih naik tipis menjadi Rp14,81
triliun dari penjualan bersih tahun sebelumnya yang Rp14,16 triliun.
Hingga
kuartal I 2016 Wijaya Karya Beton (WTON) membukukan total kontrak baru
sebesar Rp 2,6 triliun. Kontrak baru ini sudah termasuk carry over
kontrak tahun 2015 sebesar Rp 1,6
triliun, sehingga kontrak baru sebesar Rp 1 triliun. Kontrak baru hingga
Maret 2016 mencapai Rp 1 triliun. Sekitar 55% kontrak baru merupakan
proyek infrastruktur pemerintah dan 45% dari proyek swasta seperti
pembangunan gedung dan lain-lain. Kontrak baru Rp
1 triliun tersebut diperoleh dari beberapa proyek, salah satunya proyek
kereta api elevated di Medan, Sumatera Utara, proyek swasta di Jatim
untuk membangun apartemen, proyek kelistrikan di Jawa, Sumatera dan
Sulawesi. Selain itu perseroan juga memperoleh proyek
pengerjaan tanggul raksasa atau pengaman pantai di Jakarta. Wika Beton
menargetkan perolehan kontrak baru sepanjang tahun 2016 sebesar Rp 4,3
triliun, termasuk carry over kontrak Rp 1,72 triliun di tahun 2015. WTON
menargetkan penjualan tahun 2016 sebesar Rp
4 triliun dan laba bersih Rp 301 miliar.
Semen
Indonesia (SMGR) siap mendukung pembangunan nasional, sebab saat ini
produksi Semen Indonesia mencapai sekitar 90 juta ton per tahun,
sedangkan kebutuhan nasional masih sekitar
60 juta ton, sehingga masih over suplai atau melebihi kebutuhan
nasional. Secara nasional komsumsi semen pada tahun 2015 mencapai 62
juta ton, atau tumbuh sebesar 2% dibanding tahun 2014. Pertumbuhan itu
diakibatkan gencarnya pembangunan infrastruktur yang
dilakukan pemerintah pada tahun 2015, sehingga meningkatkan konsumsi
semen. Dengan meningkatnya konsumsi tersebut Indonesia menjadi pasar
semen yang menjanjikan bagi dunia, apalagi proyek infrastruktur dalam
empat tahun ke depan direncanakan juga akan terus
bergulir.
PT
Medco E&P Malaka, anak usaha Medco Energi Internasional (MEDC),
menandatangani kontrak pembangunan EPC (engineering, procurement, and
construction) proyek gas di Blok A, Provinsi
Aceh senilai USD 240 juta dengan konsorsium PT JGC Indonesia dan PT
Encona Inti Industri. Gas bumi produksi pertama Blok A akan dimulai pada
kuartal I 2018. Perjanjian jual beli gas (PJBG) telah ditandatangani
Medco dengan PT Pertamina (Persero) pada Januari
2015. Sesuai PJBG, Medco akan memasok gas bumi ke PT Pertamina sebesar
58 British thermal unit (BBTU) per hari atau secara total mencapai 198
triliun BTU selama jangka waktu 13 tahun. Penandatanganan kontrak EPC
tersebut merupakan fase pertama dari rencana
pengembangan dan monetisasi cadangan Blok A, Aceh.
Bank
Pembangunan Daerah Jabar Banten (BJBR) menandatangani perjanjian kerja
sama dengan anak perusahaan dan perusahaan terelasi, Bank Perkreditan
Rakyat (BPR) milik Pemprov Jabar
terkait tata kelola perusahaan dan manajemen risiko. Perjanjian kerja
sama dengan tata kelola dan pengelolaan risiko dilakukan Bank BJB dengan
10 direktur utama BPR yakni BPR Intan Jabar, BPR Karya Utama Jabar, BPR
Cipatujah Jabar, BPR LPK Cimerak Ciamis.BPR
Cianjur Jabar, BPR LPK Cigasong, BPR LPK Panyingkiran, BPT Cigambul, BPR
LPK Banjaran dan BPR LPK Bekasi. Perjanjian itu dalam rangka memenuhi
peraturan Otoritas Jasa Kuangan Nomor 18/POJK.03/2014 tentang tata
kelola terintegrasi konglomerasi keuangan dan peraturan
OJK Nomor 17/POJK.03/2014 tentang penerapan manajemen risiko
terintegrasi bagi konglomerasi keuangan.
Bank
Mitraniaga (NAGA) mencatat laba bersih tahun 2015 sebesar Rp 11,09
miliar, naik dari Rp 6,20 miliar di tahun 2014. Pendapatan bunga bersih
naik menjadi Rp 48,74 miliar dari
sebelumnya Rp 32,02 miliar. Laba operasional naik menjadi Rp 14,58
miliar dari sebelumnya Rp 8,43 miliar dan laba sebelum pajak tercatat Rp
14,58 miliar sebelumnya Rp 8,82 miliar.
Indonesia
Transport & Infrastructure (IATA) meraih pendapatan usaha tahun
2015 sebesar USD 17,17 juta dari sebelumnya USD 23,57 juta. Rugi sebelum
pajak tercatat USD 12,73 juta naik
dari rugi sebelum pajak tahun 2014 yang sebesar USD 3,26 juta dan rugi
bersih tercatat USD 11,09 juta naik dari rugi bersih tahun 2014 sebesar
USD 3,61 juta.
Dharma
Samudera (DSFI) membukukan kenaikan laba bersih tahun 2015 menjadi Rp
13,54 miliar dibandingkan sebelumnya Rp 11,89 miliar. Penjualan naik
menjadi Rp 557,25 miliar dari sebelumnya
Rp 450,59 miliar.
Golden
Retailindo (GOLD) membukukan kerugian sebesar Rp 4,33 miliar per
Desember 2015 dibandingkan laba bersih Rp 3 miliar di tahun 2014.
Pendapatan naik menjadi Rp 53,38 miliar
dari sebelumnya Rp 45,96 miliar.
Sona
Topas Tourism (SONA) membukukan penurunan laba bersih per Desember 2015
menjadi Rp 36,87 miliar dari sebelumnya Rp 107,85 miliar. Pendapatan
usaha naik menjadi Rp 1,43 triliun
dari sebelumnya Rp 1,22 triliun.
Pelayaran
Nelly Dwi Putri (NELY) mencatatkan kenaikan laba bersih menjadi Rp
28,42 miliar per Desember 2015 dibandingkan sebelumnya Rp 23,46 miliar.
Pendapatan turun menjadi Rp 192,72
miliar dari sebelumnya Rp 219,32 miliar.
Laba
bersih Tunas Alfin (TALF) per Desember 2015 turun 41,75% menjadi Rp
33,71 miliar dibandingkan sebelumnya Rp 57,88 miliar. Penjualan neto
turun menjadi Rp 476,38 miliar dari
sebelumnya Rp 558,08 miliar.
Laba
bersih Inter Delta (INTD) per Desember 2015 turun menjadi Rp 2,51
miliar dibandingkan sebelumnya Rp 3,55 miliar. Penjualan bersih turun
menjadi Rp 85,86 miliar dari sebelumnya
Rp 93,82 miliar.
Laba
bersih Metropolitan Kentjana (MKPI) tahun 2015 naik 103% menjadi Rp
889,62 miliar atau Rp 943,31 per saham dibandingkan sebelumnya Rp 437,86
miliar atau Rp 456,75 per saham.
Pendapatan naik menjadi Rp 2,09 triliun dari sebelumnya Rp 1,15 triliun.
Buana
Finance (BBLD) mencatatkan pendapatan tahun 2015 sebesar Rp 548,66
miliar atau turun dibandingkan sebelumnya Rp 601,79 miliar. Laba sebelum
pajak menjadi Rp 149,05 miliar.
Ekadharma
International (EKAD) membukukan kenaikan laba bersih tahun 2015 sebesar
17%, menjadi Rp 47,14 miliar atau Rp 67 per saham dibandingkan tahun
2014 sebesar Rp 40,27 miliar
atau Rp 58 per saham. Penjualan bersih naik menjadi Rp 531,54 miliar
dari sebelumnya Rp 526,57 miliar.
Victoria
Insurance (VINS) mencatatkan kenaikan laba di tahun 2015 menjadi Rp
16,97 miliar dibandingkan sebelumnya Rp 8,29 miliar. Pendapatan naik
menjadi Rp 34,22 miliar dari sebelumnya
Rp 18,57 miliar.
Nippon
Sari Roti (ROTI) membukukan kenaikan laba bersih tahun 2015 sebesar
43,40% menjadi Rp 270,54 miliar dibandingkan sebelumnya Rp 188,65
miliar. Penjualan naik menjadi Rp 2,17
triliun dari sebelumnya Rp 1,88 triliun.











0 comments:
Posting Komentar