Prediksi IHSG;
Pasar
hari ini mulai dihadapi berkurangnya insentif dari dalam negeri setelah
berakhirnya publikasi laporan keuangan perusahaan untuk tahun fiskal
2015. Selain itu, diperkirakan
mulai meredanya sentimen pasar setelah adanya kepastian pemerintah
menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi masing-masing
sebesar Rp500 per liter untuk premium dan solar yang berlaku pada
tanggal 1 April 2016. Namun, munculnya langkah yang dilakukan
oleh lembaga pemerintah yakni Perusahaan Listrik Negara dan Kementerian
Perhubungan rencana penurunan tariff, setidaknya sedikit memberikan
katalis bagi pasar. PLN per April menurunkan tariff listrik bagi 12
golongan tariff yang sudah mengikuti mekanisme tarif
penyesuaian. Selain itu, pemerintah melalui Kementrian Perhubungan
berencana menurunkan tarif transportasi diperkirakan sebesar 3%. Selian
dari sentimen dalam negeri pelaku pasar saham Indonesia juga akan
menyikapi sentimen yang muncul dari global khusunya
data ekonomi AS, Cina dan Eropa serta harga minyak. Bauran dari sentimen
ini, dapat mendorong IHSG bergerak mixed dan rawan terkoreksi pada hari
ini.
Perspektif tenikal
Support Level : 4821/4796/4784
Resistance Level : 4858/4870/4895
Major Trend : Down
Pattern : Up to down
TRADING IDEAS :
These recommendations based on technical and only intended for one day trading
Perspektif tenikal :
AALI: Trading Buy
Close 18200,
TP 18525
Boleh buy di level 18000-18200
Resistance di 18525
& support di 17650
Waspadai jika tembus di 17650
Batasi resiko di 17550
LSIP: Trading Buy
Close 1820,
TP 1850
Boleh buy di level
1800-1820
Resistance di 1850
& support di 1765
Waspadai jika tembus di 1765
Batasi resiko di 1755
MEDC : Trading Buy
Close 1495,
TP 1600
Boleh buy di level
1485-1495
Resistance di 1600
& support di 1360
Waspadai jika tembus di 1360
Batasi resiko di 1340
ASII: Trading Buy
Close 7250,
TP 7475
Boleh buy di level 7200-7250
Resistance di 7475
& support di 7125
Waspadai jika tembus di 7125
Batasi resiko di 7100
PWON: Trading Buy
Close 484,
TP 500
Boleh buy di level 481-484
Resistance di 500
& support di 475
Waspadai jika tembus di 475
Batasi resiko di 473
SCMA: Trading Buy
Close 3140,
TP 3210
Boleh buy di level 3130-3140
Resistance di 3210
& support di 3095
Waspadai jika tembus di 3095
Batasi resiko di 3085
Ket. TP
: Target Price
BBRI, PTPP, BJTM, LPPF, SMRA
(Disclaimer ON)
Commodities Price: 31-Mar-16
Crude Oil-(barel)
US$37.93 (-0.39)
Gold-(troy
oz) US$1,233.76 (8.75)
Nickel-(ton)
US$8,430.00 (-20.00)
Tin-(ton)
US$16,875.00 (75.00)
Coal
(Newc)/ton US$51.05 (-11.35)
CPO
Mal/ton* MYR2,676.00 (6.00)
Foreign Exchange
*running
Agenda hari ini -
Jumat 01 April 2016
RUPSLB
• MTFN – RUPSLB
• INCO – RUPST
• AKKU – RUPSLB
Dividen
• BBRI Cash Dividend 311.66, Cum 31 Mar-16, ex 01 Apr-16
Economic Calendar:
• pidato anggota FOMC William Dudley
• indeks Manufacturing PMI bulan Maret 2016
• indeks Caixin Manufacturing PMI China bulan Maret 2016
• indeks Manufacturing PMI Inggris bulan Maret 2016
• data tingkat pengangguran kawasan Euro bulan Pebruari 2016
• data Non Farm Payrolls AS bulan Maret 2016
• data upah rata-rata per jam di AS bulan Maret 2016
• data tingkat pengangguran di AS bulan Maret 2016
• indeks ISM Manufacturing PMI AS bulan Maret 2016
VAS
HEADLINE NEWS
Multipolar
Technology (MLPT) akan membagikan dividen sebesar Rp 13.125.000.000
saham sebesar Rp7,-per saham. Dividen ini setara dengan 13,2% dari total
Laba Tahun Berjalan yang Diatribusikan
Kepada Pemilik Entitas Induk Perseroan di tahun 2015.
Lippo
General Insurance (LPGI) membukukan penurunan laba bersih per Desember
2015 menjadi Rp77,65 miliar dibandingkan laba bersih periode sama tahun
sebelumnya yang Rp127,98 miliar.
Sedangkan pendapatan sebesar Rp851,08 miliar naik dari periode sama
tahun sebelumnya sebesar Rp693,33 miliar.
Catur
Sentosa Adiparana (CSAP) tahun ini menargetkan target penjualan
konsolidasi senilai Rp8,5 triliun, naik sekitar 18% YoY dari realisasi
tahun lalu yang mencapai Rp7,3 triliun.
Adapun target laba bersih tahun ini meningkat sekitar 2,5 kali lipat
menjadi Rp105 miliar. Saat ini, CSAP memiliki dua lini usaha yaitu
distribusi dan modern retail. Adapun sektor lini distribusi tahun ini
ditargetkan bertumbuh 16% sedangkan modern ritel diharapkan
tumbuh lebih besar yaitu 21%.
Multipolar
Technology (MLPT) menyiapkan belanja modal sebesar Rp332 miliar pada
2016 yang mayoritas dialokasikan untuk merampungkan pembangunan dana
center milik PT Graha Teknologi
Nusantara. Realisasi belanja modal 2015 hanya sekitar 40% dari rencana
awal sebesar Rp394 miliar. Adapun, sumber pendanaan capex tahun ini
mayoritas akan berasal dari pinjaman bank atau sebanyak 66%.
Puradelta
Lestari (DMAS) tengah mengkaji untuk menambah jumlah saham yang beredar
di public sebesar 10% sehingga total saham beredar akan menjadi 20%.
Rencana tersebut merupakan
kelanjutan dari rencana awal pemegang saham saat melakukan penawaran
umum perdana atau intial public offering (IPO) saham pada Mei 2015.
Bank
Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) mulai fokus untuk menyalurkan kredit
di segmen bisnis Usaha Kecil & Menengah (UKM). Untuk itu, BTPN
membentuk unit usaha khusus bernama BTPN
Mitra Bisnis yang dibentuk sejak 2013 dan fokus menggarap pasar
tersebut. BTPN mulai amsuk ke segmen UKM setelah melihat adanya
kebutuhan dan dianggap sudah cukup layak untuk menggarap pasar UKM
terutama jika menimbang dari total aset yang dikuasai. Oleh karena
itu, perusahaan menargetkan pertumbuhan di segmen UKM dapat mencapai
40%-50%.
Bank
Central Asia (BBCA) menargetkan volume transaksi untuk produk uang
elektroniknya yaitu BCA Flazz tumbuh 20%-25% pada tahun ini. Salah satu
strategi yang dilakukan adalah dengan
melakukan integrasi metode pembayaran sarana transportasi baik dalam
bentuk kendaraan maupun sarana penunjang transportasi seperti jalan tol.
Electronic
City (ECII) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 74,47% per
Desember 2015 menjadi Rp33,04 miliar dibandingkan laba bersih yang
dibukukan Rp129,46 miliar di tahun
sebelumnya. Penurunan laba tersebut disebabkan oleh pendapatan yang
turun menjadi Rp1,78 triliun dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya
yang Rp2,22 triliun.
Megapolitan
Development (EMDE) mencetak kenaikan laba bersih sebesar 33,43% hingga
Desember 2015 menjadi Rp59,86 miliar dibandingkan laba bersih periode
sama tahun sebelumnya yang
Rp44,86 miliar. Penjualan usaha naik menjadi Rp325,31 miliar dari
penjualan usaha tahun sebelumnya yang Rp311,28 miliar.
Multipolar
Technology (MLPT) menargetkan pendapatan naik sebesar 9,2% menjadi
Rp2,33 triliun pada 2016 dibandingkan realisasi pendapatan 2015 sebesar
Rp2,14 triliun. Peningkatan
pendapatan didorong perkiraan terus membaiknya perekonomian nasional
tahun ini. Perseroan mengandalkan sektor perbankan dan telekomunikasi
sebagai pemasok pendapatan. Selain itu perseroan juga tengah
meningkatkan ekspansi di sektor komersial.
Bank
Mandiri (BMRI) menurunkan suku bunga kredit sektor produktif yakni
segmen korporasi, komersial dan Usaha Kecil dan Menengah serta untuk
Kredit Kepemilikan Rumah. perseroan memotong
suku bunga kredit untuk sektor produktif sebesar 25 basis poin dan KPR
sebesar 50 basis poin. Perseroan memulai penerapan suku bunga rendah
satu digit dengan mengoptimalkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Bank
Rakyat Indonesia (BBRI) saat ini sedang melakukan instalasi dan testing
untuk equipment antenna yang telah dipasang di ground segment primary
satellite control facility (Jakarta)
dan back up satellite control facility (Bali). Sedangkan untuk progress
manufacturing satelit, tengah dilakukan persiapan Final Performance Test
yang akan berlangsung hingga pertengahan April 2016 di pabrik Space
Systems/Loral, LLC (SSL) Palo Alto, California.
Selanjutnya akan dilakukan Spacecraft Pre-Shipment Review (SPSR) pada
awal Mei 2016 sebagai review terakhir sebelum BRIsat dikirimkan ke
Launch Site di Kourou, French Guiana. BRI sedang melakukan tahapan Final
Mission Analysis Review (RAMF), Final Ops dan Mission
Readiness Review (RAV) terkait dengan persiapan dan pembahasan detail
rencana peluncuran BRIsat. BRI, SSL dan Arianespace juga telah
menyepakati tanggal peluncuran satelit, yakni pada 8 Juni 2016 waktu
setempat atau tanggal 9 Juni 2016 waktu Indonesia.
Bank
Central Asia (BBCA) dan PT Lintas Marga Sedaya (LMS) menjalin kerja
sama dalam penyelenggaraan transaksi e-payment atau pembayaran
menggunakan uang elektronik demi kemudahan
transaksi pembayaran di jalan tol. Kartu Flazz digunakan sebagai salah
satu alat pembayaran bagi pengguna jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali).
Kartu Flazz tidak hanya dapat dinikmati oleh nasabah BCA, namun juga
oleh nasabah bank-bank lainnya yang telah melakukan
co-branding Flazz, antara lain Bank OCBC NISP (NISP), Bank Danamon
Indonesia (BDMN), BPD DIY, Bank Jatim (BJTM) dan Bank Kalbar.
Catur
Sentosa Adiprana (CSAP) menyiapkan dana dana belanja modal atau capital
expenditure (Capex) tahun 2016 sebesar Rp 500 miliar, atau lebih tinggi
dibandingkan tahun 2015 yang
sebesar Rp 200 miliar. Sebesar 80% atau Rp 400 miliar dari dana tersebut
akan dihasilkan dari penerbitan saham baru dengan hak memesan efek
terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Sedang sisanya sebesar 20%
atau Rp 100 miliar akan berasal dari pinjaman perbankan.
Perseroan berencana menerbitkan sebanyak 1,15 miliar saham baru, dan
menargetkan perolehan dana Rp 480 miliar. Perseroan telah memperoleh
persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan penerbitan rights issue.
Catur
Sentosa Adiprana (CSAP) akan menggunakan sekitar 80% atau Rp 384 miliar
hasil dana rights issue untuk bisnis modern retail perseroan dalam
Mitra10. Sisanya 20% atau Rp 96 miliar
untuk modal kerja perseroan. Penambahan 3 gerai Mitra10, yang pertama
akan dibangun pada Mei 2016 di Pekayon, Bekasi dengan luas 3.000 meter
persegi. Kedua, dibangun pada Agustus 2016 di Lampung, Sumatera Selatan,
seluas 2.500 meter persegi. Ketiga, di BSD,
Tanggerang seluas 7.000 meter persegi, atau terbesar untuk Mitra10 dan
akan menjadi flagship. Lokasi dan perizinan pembangunan Mitra10 sudah
siap dan manajemen memastikan akan buka tahun ini. Keputusan perseroan
untuk menambah gerai ini terkait dengan menurunnya
pendapatan perseroan dari bisnis distribusi sebesar 2%. Sedangkan
penjualan melalui modern retail tumbuh 13%.
Bali
Towerindo (BALI) meraih perjanjian kredit sebesar USD 3 juta dari Bank
Sinarmas (BSIM) pada 29 Maret 2016. Jangka waktu pengikatan kredit
mencapai 12 bulan. Pinjaman dijamin
dengan cash margin berupa setoran jaminan minimal sebesar 10 persen dari
nominal L.C yang diterbitkan dan seluruh perserian barang yang akan
dibeli dengan fasilitas LC Bank Sinarmas. Fasilitas ini digunakan untuk
pembelian peralatan tower MCP maupun jaringan
FTTH.
Asuransi
Bina Dana Arta (ABDA) akan membagikan dividen sebesar Rp 130 per saham
pada 29 April 2016. Cum dan ex date di pasar reguler/negosiasi pada 6-7
April 2016 dan di pasar tunai
pada 11-12 April 2016 dengan DPS 11 April 2016.
Sarana
Menara Nusantara (TOWR) membukukan laba bersih tahun 2015 sebesar Rp
2,96 triliun dari sebelumnya Rp 1,09 triliun. Pendapatan naik menjadi Rp
4,47 triliun dari sebelumnya
Rp 4,10 triliun.
Nusa
Konstruksi Enjiniring (DGIK) mencatatkan penurunan laba bersih per
Desember 2015 menjadi Rp 4,68 miliar dari sebelumnya membukukan laba
bersih Rp 61,33 miliar di tahun 2014.
Pendapatan turun menjadi Rp 1,54 triliun dari sebelumnya Rp 2,03
triliun.
Surya
Toto Indonesia (TOTO) mencatatkan kenaikan penjualan tahun 2015 menjadi
Rp 2,27 triliun dari sebelumnya Rp 2,05 triliun. Laba tahun berjalan
turun menjadi Rp 285,23 miliar
dari sebelumnya Rp 295,86 miliar.
Elang
Mahkota Teknologi (EMTK) membukukan laba bersih tahun 2015 sebesar Rp
1,33 triliun dibandingkan sebelumnya Rp 1,09 triliun. Pendapatan naik
menjadi Rp 6,42 triliun dari sebelumnya
Rp 5,98 triliun.
Pendapatan
Saratoga Investama (SRTG) tahun 2015 turun menjadi Rp 4,28 triliun
dibandingkan sebelumnya Rp 6,12 triliun. Laba bersih tercatat Rp 923,40
miliar naik dari Rp 624,69 miliar
di tahun 2014. Kenaikan laba tersebut terutama didorong oleh realisasi
dari valuasi investasi sebesar Rp 1,1 triliun dari Merdeka Copper Gold
yang menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tahun
2015. Saratoga Investama Sedaya (SRTG) menerima
lebih dari 100 peluang investasi sepanjang tahun 2015.
Bayan
Resources (BYAN) mencatatkan rugi sebesar USD 64,40 juta hingga
Desember 2015 dari rugi periode sama tahun sebelumnya sebesar USD 138,97
juta. Pendapatan turun menjadi USD
465 juta dari sebelumnya USD 828,26 juta.











0 comments:
Posting Komentar