Prediksi IHSG;
Ekspektasi kenaikan fed fund rate, yang dapat mendorong apresiasi dolar AS terhadap mata uang utama negara lainnya, dapat memicu potensi tekanan bagi pasar saham global, termasuk dampaknya bagi IHSG. Pasar juga diberatkan oleh kondisi dari perekonomian Jepang. Kondisi perekonomian negara ini masih memperlihatkan perlambatan. Penjualan retail Jepang turun di bulan April untuk dua bulan beruntun, meningkatkan argumen bahwa kenaikan pajak penjualan yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada tahun depan harus ditudnda. Penjualan retail di Jepang turun 0.8% di bulan April dari setahun yang lalu, sedikit lebih baik dari perkiraan untuk penurunan sebesar 1.2%. Itu menandai penurunan tercepat sejak Maret 2015. Perdana Menteri Shinzo Abe akan menunda kenaikan pajak hingga dua sampai tiga tahun, karena khawatir bahwa langkah tersebut dapat mendorong turun belanja konsumen dan kemungkinan akan kembali mendorong deflasi. Pelaku pasar akan mencermati pertemuan Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) yang berlangsung 2 Juni, di Wina, yang diharapkan bisa menyepakati upaya pengurangan kapasitas produksi. Jika hal ini menghasilkan kesepakatan, akan menjadi katalis positif bagi pasar saham global maupun Indonesia.
Perspektif tenikal
Support Level : 4820/4805/4792
Resistance Level : 4848/4861/4876
Major Trend : Down
Minor Trend : Up
Pattern : Up
TRADING IDEAS : These recommendations based on technical and only intended for one day trading
Perspektif tenikal :
ADHI: Trading Buy
Close 2580, TP 2610
Boleh buy di level 2550-2580
Resistance di 2610 & support di 2550
Waspadai jika tembus di 2550
Batasi resiko di 2490
AKRA: Trading Buy
Close 6300, TP 6425
Boleh buy di level 6100-6300
Resistance di 6425 & support di 6100
Waspadai jika tembus di 6100
Batasi resiko di 5775
RALS : Trading Buy
Close 825, TP 860
Boleh buy di level 770-825
Resistance di 860 & support di 770
Waspadai jika tembus di 770
Batasi resiko di 680
SMRA: Trading Buy
Close 1585, TP 1610
Boleh buy di level 1565-1585
Resistance di 1610 & support di 1565
Waspadai jika tembus di 1565
Batasi resiko di 1520
INAF: Trading Buy
Close 965, TP 1025
Boleh buy di level 880-965
Resistance di 1025 & support di 880
Waspadai jika tembus di 880
Batasi resiko di 735
CEKA: Trading Buy
Close 1130, TP 1180
Boleh buy di level 1085-1130
Resistance di 1180 & support di 1085
Waspadai jika tembus di 1085
Batasi resiko di 990
Ket. TP : Target Price
WATCHING ON SCREEN;
TLKM, EXCL, WTON. PWON, WSKT, PTPP
(Disclaimer ON)
Commodities Price: 30-May-16
Crude Oil-(barel) US$49.17 (-0.16)
Gold-(troy oz) US$1,205.85 (-7.10)
Nickel-(ton) US$8,420.00 (25.00)
Tin-(ton) US$16,200.00 (350.00)
Coal (Newc)/ton US$53.20 (-9.20)
CPO Mal/ton* MYR2,602.50 (6.00)
Foreign Exchange
USD/IDR* 13,640.00 (53.00)
*running
Agenda hari ini - Selasa, 31 Mei 2016
UPCOMING IPO'S
Indonesia Pondasi Raya, IPO Price 1280.
Ateliers Mecaniques D'Indonesis, IPO Price 128
Economic Calendar:
US Import Price Index MoM, diperkirakan turun menjadi -0.8% dari -0.5%
US Import Price Index YoY, diperkirakan naik menjadi -9.6% dari -10.5%
US Initial Jobless Claims, diperkirakan turun menjadi 266 ribu dari 269 ribu
VAS
HEADLINE NEWS
Telekomunikasi Indonesia (TLKM) melalui anak usahanya yakni PT Multimedia Nusantara, membeli 25% saham minoritas PT Administrasi Medika sebanyak 20.000 saham yaitu dari Shia Kok Fat 1.000 saham, Sofian Susanto 7.600 saham, Rafi Varma 3.800 saham dan PT Swadayanusa Kencana sebanyak 7.600 saham. Sebelumnya PT Administrasi Medika sudah memiliki 75% saham Administrasi Media dan kini sepenuhnya dimiliki PT Multimedia Nusantara. Admedika merupakan perusahaan third party administration di bidang kesehatan yang menyediakan solusi penghubung antara perusahaan asuransi, rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan sejenis serta pasien.
Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jatim, membentuk pola kemitraan untuk menarik minat investasi di kawasan ini, yang nantinya bisa menjadi proyek percontohan untuk diterapkan di daerah lain. BNI memberikan kemudahan dalam penyaluran kredit investasi yang dibutuhkan dan disertai dengan kemudahan pengurusan izin investasi serta kelengkapan infrastruktur yang disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Kresna Graha Investama (KREN) melalui anak usahanya yakni PT Digital Artha Media (DAM) menargetkan jumlah pengguna layanan uang elektronik (E-Cash) akan mencapai 20 juta-27 juta pada tahun 2017 dan sekitar 5 juta User pada tahun 2016. Untuk mencapai target itu salah satunya dengan menggandeng beberapa perusahaan untuk menggunakan produk DAM. Ada beberapa perusahaan yang berminat untuk bekerja sama dalam hal pelayanan elektronik dengan DAM. Namun DAM saat ini masih melakukan seleksi puluhan perusahaan tersebut. Dalam pengembangan e-commerce atau e-Cash, perseroan sudah melakukan kerja sama dengan Sinar Mas Land dan Perumnas. Kerja sama dengan Sinar Mas Land akan direalisasikan pada Juli, sedang dengan Perumnas pada Agustus.
Anak usaha Kresna Graha Investama (KREN) yakni PT Digital Artha Media (DAM) telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Perumnas. Kerja sama tersebut dalam rangka menyediakan suatu solusi pembayaran yang mumpuni dan modern, tapi memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk para penghuni rumah susun sewa (rusunawa).
Cowell Development (COWL) menargetkan penjualan pada tahun 2016 akan mengalami peningkatan sebesar 15% menjadi Rp 670,75 miliar. Perseroan mengharapkan memperoleh nilai pra penjualan (marketing sales) sebesar Rp 1,3 triliun. Hingga kuartal I 2016 perseroan membukukan marketing sales sekitar Rp 300 miliar dan revenue Rp 135,20 miliar.
Cowell Development (COWL) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2016 sebesar Rp 800 miliar. Dana itu akan dipergunakan untuk mendukung bisnis perusahaan di bidang properti yaitu untuk 4 proyek yang saat ini tengah berjalan. Keempat proyek itu adalah The Oasis Cikarang, Lexington Residence di Jakarta Selatan, Borneo Paradiso di Balikapapan, serta penyelesaian pembangunan LaVerde di Serpong. Sekitar 40% dari dana capex atau sekitar Rp 320 miliar akan dianggarkan untuk proyek The Oasis Cikarang, sebesar 20% dana atau Rp 160 miliar akan dipergunakan untuk proyek Borneo Paradiso di Balikpapan serta sisanya -bagi untuk penyelesaian proyek Lexington dan Laverde. Sumber pendanaan capex 2016 sekitar 70% akan berasal dari pinjaman perbankan dan 30% dari kas internal perseroan. Tahun lalu perseroan masih memiliki fasilitas kredit Rp 163 juta dari bank QNB Kesawan (BKSW).
Trisula International (TRIS) melakukan penjualan 2 bidang tanah dan bangunan yang terletak di Kompleks Pergudangan Bandara Mas Blok A.2/1 seluas total 745 m2 di Tangerang kepada Chitose International (CINT) dengan nilai transaksi Rp 7.170.000.000. Dana hasil penjualan tanah dan bangunan ini akan digunakan untuk membangun kantor dan gudang baru.
Modern Internasional (MDRN) membukukan penjualan Rp 1,22 triliun per Desember 2015, turun dibandingkan sebelumnya yang sebesar Rp 1,43 triliun. Rugi tahun berjalan yang dapat didistribusikan ke entitas induk mencapai Rp 58,42 miliar dari sebelumnya mencatatkan laba tahun 2014 yang sebesar Rp 41,45 miliar.
Kelompok bank BUMN tengah mengkaji rencana merevisi target pertumbuhan kredit di semester II 2016, karena ada potensi kenaikan permintaan kredit pada segmen ritel seperti kredit pemilikan rumah (KPR) dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sedangkan permintaan kredit segmen korporasi masih terjadi perlambatan. Bank Tabungan Negara (BBTN) ingin melakukan pertumbuhan kredit yang lebih menantang dengan menaikkan pertumbuhan kredit di semester II. Alasan revisi ke atas kredit tersebut karena BTN menilai permintaan kredit akan lebih bagus di semester II 2016. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berencana untuk revisi target kredit ke atas menjadi sekitar 16% di semester II 2016 dari target pertumbuhan kredit13%-15% di semester I 2016 apabila terjadi ekses likuiditas. BBRI menilai ada potensi kenaikan kredit sebesar 1% dengan syarat ada tambahan likuiditas. Sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) akan memanfaatkan sisa waktu untuk memutuskan merevisi target kredit atau tidak di semester II 2016. BBNI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 15%-17% di tahun 2016. Permintaan kredit paling banyak berasal dari konstruksi untuk proyek-proyek infrastruktur.
Ekspektasi kenaikan fed fund rate, yang dapat mendorong apresiasi dolar AS terhadap mata uang utama negara lainnya, dapat memicu potensi tekanan bagi pasar saham global, termasuk dampaknya bagi IHSG. Pasar juga diberatkan oleh kondisi dari perekonomian Jepang. Kondisi perekonomian negara ini masih memperlihatkan perlambatan. Penjualan retail Jepang turun di bulan April untuk dua bulan beruntun, meningkatkan argumen bahwa kenaikan pajak penjualan yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada tahun depan harus ditudnda. Penjualan retail di Jepang turun 0.8% di bulan April dari setahun yang lalu, sedikit lebih baik dari perkiraan untuk penurunan sebesar 1.2%. Itu menandai penurunan tercepat sejak Maret 2015. Perdana Menteri Shinzo Abe akan menunda kenaikan pajak hingga dua sampai tiga tahun, karena khawatir bahwa langkah tersebut dapat mendorong turun belanja konsumen dan kemungkinan akan kembali mendorong deflasi. Pelaku pasar akan mencermati pertemuan Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) yang berlangsung 2 Juni, di Wina, yang diharapkan bisa menyepakati upaya pengurangan kapasitas produksi. Jika hal ini menghasilkan kesepakatan, akan menjadi katalis positif bagi pasar saham global maupun Indonesia.
Perspektif tenikal
Support Level : 4820/4805/4792
Resistance Level : 4848/4861/4876
Major Trend : Down
Minor Trend : Up
Pattern : Up
TRADING IDEAS : These recommendations based on technical and only intended for one day trading
Perspektif tenikal :
ADHI: Trading Buy
Close 2580, TP 2610
Boleh buy di level 2550-2580
Resistance di 2610 & support di 2550
Waspadai jika tembus di 2550
Batasi resiko di 2490
AKRA: Trading Buy
Close 6300, TP 6425
Boleh buy di level 6100-6300
Resistance di 6425 & support di 6100
Waspadai jika tembus di 6100
Batasi resiko di 5775
RALS : Trading Buy
Close 825, TP 860
Boleh buy di level 770-825
Resistance di 860 & support di 770
Waspadai jika tembus di 770
Batasi resiko di 680
SMRA: Trading Buy
Close 1585, TP 1610
Boleh buy di level 1565-1585
Resistance di 1610 & support di 1565
Waspadai jika tembus di 1565
Batasi resiko di 1520
INAF: Trading Buy
Close 965, TP 1025
Boleh buy di level 880-965
Resistance di 1025 & support di 880
Waspadai jika tembus di 880
Batasi resiko di 735
CEKA: Trading Buy
Close 1130, TP 1180
Boleh buy di level 1085-1130
Resistance di 1180 & support di 1085
Waspadai jika tembus di 1085
Batasi resiko di 990
Ket. TP : Target Price
WATCHING ON SCREEN;
TLKM, EXCL, WTON. PWON, WSKT, PTPP
(Disclaimer ON)
Commodities Price: 30-May-16
Crude Oil-(barel) US$49.17 (-0.16)
Gold-(troy oz) US$1,205.85 (-7.10)
Nickel-(ton) US$8,420.00 (25.00)
Tin-(ton) US$16,200.00 (350.00)
Coal (Newc)/ton US$53.20 (-9.20)
CPO Mal/ton* MYR2,602.50 (6.00)
Foreign Exchange
USD/IDR* 13,640.00 (53.00)
*running
Agenda hari ini - Selasa, 31 Mei 2016
UPCOMING IPO'S
Indonesia Pondasi Raya, IPO Price 1280.
Ateliers Mecaniques D'Indonesis, IPO Price 128
Economic Calendar:
US Import Price Index MoM, diperkirakan turun menjadi -0.8% dari -0.5%
US Import Price Index YoY, diperkirakan naik menjadi -9.6% dari -10.5%
US Initial Jobless Claims, diperkirakan turun menjadi 266 ribu dari 269 ribu
VAS
HEADLINE NEWS
Telekomunikasi Indonesia (TLKM) melalui anak usahanya yakni PT Multimedia Nusantara, membeli 25% saham minoritas PT Administrasi Medika sebanyak 20.000 saham yaitu dari Shia Kok Fat 1.000 saham, Sofian Susanto 7.600 saham, Rafi Varma 3.800 saham dan PT Swadayanusa Kencana sebanyak 7.600 saham. Sebelumnya PT Administrasi Medika sudah memiliki 75% saham Administrasi Media dan kini sepenuhnya dimiliki PT Multimedia Nusantara. Admedika merupakan perusahaan third party administration di bidang kesehatan yang menyediakan solusi penghubung antara perusahaan asuransi, rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan sejenis serta pasien.
Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jatim, membentuk pola kemitraan untuk menarik minat investasi di kawasan ini, yang nantinya bisa menjadi proyek percontohan untuk diterapkan di daerah lain. BNI memberikan kemudahan dalam penyaluran kredit investasi yang dibutuhkan dan disertai dengan kemudahan pengurusan izin investasi serta kelengkapan infrastruktur yang disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Kresna Graha Investama (KREN) melalui anak usahanya yakni PT Digital Artha Media (DAM) menargetkan jumlah pengguna layanan uang elektronik (E-Cash) akan mencapai 20 juta-27 juta pada tahun 2017 dan sekitar 5 juta User pada tahun 2016. Untuk mencapai target itu salah satunya dengan menggandeng beberapa perusahaan untuk menggunakan produk DAM. Ada beberapa perusahaan yang berminat untuk bekerja sama dalam hal pelayanan elektronik dengan DAM. Namun DAM saat ini masih melakukan seleksi puluhan perusahaan tersebut. Dalam pengembangan e-commerce atau e-Cash, perseroan sudah melakukan kerja sama dengan Sinar Mas Land dan Perumnas. Kerja sama dengan Sinar Mas Land akan direalisasikan pada Juli, sedang dengan Perumnas pada Agustus.
Anak usaha Kresna Graha Investama (KREN) yakni PT Digital Artha Media (DAM) telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Perumnas. Kerja sama tersebut dalam rangka menyediakan suatu solusi pembayaran yang mumpuni dan modern, tapi memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk para penghuni rumah susun sewa (rusunawa).
Cowell Development (COWL) menargetkan penjualan pada tahun 2016 akan mengalami peningkatan sebesar 15% menjadi Rp 670,75 miliar. Perseroan mengharapkan memperoleh nilai pra penjualan (marketing sales) sebesar Rp 1,3 triliun. Hingga kuartal I 2016 perseroan membukukan marketing sales sekitar Rp 300 miliar dan revenue Rp 135,20 miliar.
Cowell Development (COWL) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2016 sebesar Rp 800 miliar. Dana itu akan dipergunakan untuk mendukung bisnis perusahaan di bidang properti yaitu untuk 4 proyek yang saat ini tengah berjalan. Keempat proyek itu adalah The Oasis Cikarang, Lexington Residence di Jakarta Selatan, Borneo Paradiso di Balikapapan, serta penyelesaian pembangunan LaVerde di Serpong. Sekitar 40% dari dana capex atau sekitar Rp 320 miliar akan dianggarkan untuk proyek The Oasis Cikarang, sebesar 20% dana atau Rp 160 miliar akan dipergunakan untuk proyek Borneo Paradiso di Balikpapan serta sisanya -bagi untuk penyelesaian proyek Lexington dan Laverde. Sumber pendanaan capex 2016 sekitar 70% akan berasal dari pinjaman perbankan dan 30% dari kas internal perseroan. Tahun lalu perseroan masih memiliki fasilitas kredit Rp 163 juta dari bank QNB Kesawan (BKSW).
Trisula International (TRIS) melakukan penjualan 2 bidang tanah dan bangunan yang terletak di Kompleks Pergudangan Bandara Mas Blok A.2/1 seluas total 745 m2 di Tangerang kepada Chitose International (CINT) dengan nilai transaksi Rp 7.170.000.000. Dana hasil penjualan tanah dan bangunan ini akan digunakan untuk membangun kantor dan gudang baru.
Modern Internasional (MDRN) membukukan penjualan Rp 1,22 triliun per Desember 2015, turun dibandingkan sebelumnya yang sebesar Rp 1,43 triliun. Rugi tahun berjalan yang dapat didistribusikan ke entitas induk mencapai Rp 58,42 miliar dari sebelumnya mencatatkan laba tahun 2014 yang sebesar Rp 41,45 miliar.
Kelompok bank BUMN tengah mengkaji rencana merevisi target pertumbuhan kredit di semester II 2016, karena ada potensi kenaikan permintaan kredit pada segmen ritel seperti kredit pemilikan rumah (KPR) dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sedangkan permintaan kredit segmen korporasi masih terjadi perlambatan. Bank Tabungan Negara (BBTN) ingin melakukan pertumbuhan kredit yang lebih menantang dengan menaikkan pertumbuhan kredit di semester II. Alasan revisi ke atas kredit tersebut karena BTN menilai permintaan kredit akan lebih bagus di semester II 2016. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berencana untuk revisi target kredit ke atas menjadi sekitar 16% di semester II 2016 dari target pertumbuhan kredit13%-15% di semester I 2016 apabila terjadi ekses likuiditas. BBRI menilai ada potensi kenaikan kredit sebesar 1% dengan syarat ada tambahan likuiditas. Sementara Bank Negara Indonesia (BBNI) akan memanfaatkan sisa waktu untuk memutuskan merevisi target kredit atau tidak di semester II 2016. BBNI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 15%-17% di tahun 2016. Permintaan kredit paling banyak berasal dari konstruksi untuk proyek-proyek infrastruktur.











0 comments:
Posting Komentar